Pemilu Israel, Siapapun Yang Menang, Hak Palestina Tak Akan Kembali

Para pengamat urusan zionisme sepakat, apapun hasil akhir pemilu Israel tak akan menciptakan perubahan strategi dalam sikap para politikus Zionis terhadap hak-hak Palestina yang mereka rampas.

Para pengamat menegaskan, sikap gambling Otoritas Palestina yang menunggu hasil pemilu Israel hanya merupakan cerminan kelemahan yang dialami Abbas dan pengikutnya yang diibaratkan seperti melihat fatamorgana.

Banyak Partai Satu Sikap

Pengamat khusus urusan Israel, Dr. Umar Jaarah menilai tak ada perbedaan antara partai-partai Israel, khususnya terkait masalah fundamental seperti Al-Quds (Jerusalem) dan pemukiman-pemukiman besar Yahudi di wilayah Palestina.

Ia membuktikan, bahwa sikap-sikap resmi elit-elit partai Israel semuanya menolak Al-Quds dibagi dan mereka menilai bagian timur kota adalah bukanlah wilayah jajahan. Artinya, mereka semua menilai Al-Quds diklaim milik mereka sendiri.

Dalam statemennya kepada Pusat Informasi Palestina, sebagian besar elit partai Israel yang berpotensi besar saat ini berada di bawah koalisi dengan Likud berhaluan kanan ekstrim. Sebagian yang keluar dari koalisi ini ingin mencari kepentingan pribadi.

Saat ini, enam juta warga Israel sedang menggelar pemilu untuk memilih 120 wakil mereka di parlemen Knesset dari 26 daftar. Persaingan perolehan suara ketat antara partai Likud kanan ekstrim dan poros kiri moderat.

Kiri Moderat dan Sia-sianya Perundingan

Soal peluang perundingan dan proses perdamaian, jika poros koalisi Zionis (kiri moderat) dimana dalam jajak pendapat terakhir mengalami kenaikan tipis atas partai Likud, pakar politik Ja’arah menegaskan, masalahnya adalah apa yang perlu dirundingkan jika mereka memiliki sikap jelas soal berbagai hal terkait hubungannya dengan Palestina dan selama 23 tahun perundingan berlangsung hanya sia-sia.

Ia menegaskan, negara penjajah bukan negara pribadi sehingga diberi nama sesuai kepentingannya sendiri. Israel hidup di bawah bayang-bayang veto Amerika dan semua perundingan harus berjalan seusai dengan rel yang diberikan oleh Amerika.

Pemerintah koalisi Netenyahu meminta pemilu dini setelah diterpa friksi keras dari dalam. Empat bulan lalu, enam menterinya kabur dari koalisi. Menurut Jaarah, perpecahan ini salah satu hasil kemenengan perlawanan Palestina dalam agresi Israel terkahir di Gaza.

Kanan Ekstrim Israel

Sementara itu, Dr. George Jacman, pengamat politik dari Tepi Barat menilai, publik Israel selama beberapa tahun belakangan mengarah kepada prinsip kanan ekstrim sementara. Jacman menegaskan kepada Pusat Informasi Palestina bahwa tidak ada kejelasan apakah ada kepentingan Palestina bisa tercapai jika salah satu partai Israel menang. Tak mungkin ada satu partai yang menang mutlak, mereka harus membangun koalisi. (infopalestina.com)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s